Friday, 6 November 2015

Premanisme Bisnis Kopi Papua Memprihatinkan dan Memalukan

Premanisme Bisnis Kopi Papua yang kami maksudkan di sini Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
adalah sebutan pejoratif yang sering digunakan untuk merujuk kepada kegiatan sekelompok orang yang mendapatkan penghasilannya terutama dari pemerasan kelompok masyarakat lain. <https://id.wikipedia.org/wiki/Premanisme>
Jadi dalam hal ini ada kegiatan dalam kawasn bisnis Papua (yaitu pegunungan tengah Papua) yang dijalankan dengan perbuatan yang memeras para petani Kopi sehingga para petani kopi sebernarnya tidak merasa diperas, tetapi di satu tingkatan sebenarnya mereka diperas.

Menurut kami dalam premanisme itu ada unsur manipulasi fakta dan unsur rekayasa harga, yang menyebabkan para petani kopi menjual kepada preman bisnis kopi dimaksud, dengan sangkaan mereka sedang untung, padahal sebenarnya mereka sedang rugi, yaitu rugi secara sosial-budaya, dan terutama rugi secara finansial.

Premanisme biasanya muncul di saat perekonomian lesu, kemiskinan merajalela dan sulit menjalani hidup. Akan tetapi premanisme bisnis kopi di Pegunugan Tengah Papua bukan karena unsur-unsur yang lazimnya kita tahu sebagai pemicu premanisme. Premanisme dalam bisnis Kopi Papua dipicu oleh kerakusan. Ya, benar unsur utamanya ialah kerakusan dari para pengendara mobil plat merah, plat hitam dan plat khusus, yang memicu pengendara plat hitam juga terhasut untuk ikut ramai-ramai memaksa masyarakat pegunungan Tengah, petani Kopi menjual kopi mereka dengan harga yang dipatok beraneka-ragam, yang berbedaannya sangat tajam, antara plat yang satu dengan yang lainnya.

Kerakusan para pengendara berbagai plat ini juga dipicu karena para pengendara plat-plat beragam-warna ini tidak hadir ke Pegunungan Tengah dengan tulus-ikhlas untuk membangun masyarakat, membangun Tanah Papua, membangun masyarakat petani Kopi, tetapi mereka datang "cari makan", bukan menjalankan amanat negara melayani rakyat.

Sumpah jabatn, sumpah korps, sumpah ini dan itu sering sekali membuat tuli telinga rakyat, tetapi sumpah-sumpah itu seolah-olah menjadi dusta publik. Kita lupa bahwa "sumpah" adalah sebuah ucapan yang mengikat kekal selama-lamanya antara manusia dengan Tuhan Allah. Akan tetapi, apalah artinya sumpah, itu tidak berlaku dalam bisnis kopi Papua.

Sudah disebutkan dalam blog lain, bahwa memang sudah ada Memo Gubernur Papua, sudah ada Memo Dinas yang jelas-jelas menyebutkan apa yang harus dilakukan, dan siapa yang harus dituju, untuk pengembangan Kopi di Tanah Papua. Tetapi silahkan sidang pembaca sekalian simak ucapan-ucapan para pengendara plat beragam warna tadi, dan lihat apakah arah Memo Gubernur dan arah ucapan para Kepala-Kepala dari para pengendara mobil berplat warna-warni tadi sama atau tidak?

Kalau trend premanisme bisnis Kopi Papua ini terus berlanjut, kami berani bertaruhan, justru konglomerat asing yang pasti akan ambil-alih Bisnis Kopi Papua. Semua pengendara beraneka warna plat tadi sama-sama akan duduk gigit jari. Tetapi pada waktu itu semua akan terlambat! Semua akan duduk saling menyalahkan.

Kalau kami mau salahkan tempo-tempo sekarang, kami berani katakan "pengusaha kopi Papua plat merah dan plat khususlah yang sudah jelas berpotensi merugikan potensi bisnis kopi Papua menjadi sebuah malapetaka".

No comments:

Post a Comment