Showing posts with label kisah Kopi Palsu. Show all posts
Showing posts with label kisah Kopi Palsu. Show all posts

Wednesday, 2 December 2015

Kopi Apa ini? Ini Kopi yang Saya Tidak Mau! Ini Kopi Wamena yang Sebenarnya

Demikian kata salah satu pemain kopi ternama di Indonesia (Jakarta) saat bertemu dengan Jhon Kwano sebagai Direktur PAPUAmart.com atau Unit Sales & Marketing KSU Baliem Arbaica bersama Kelion Yikwa, Bendahara KSU Baliem Arabica pada tanggal 01 Desember 2001, bertempat di salah satu kota di DKI Jakarta.

Pada waktu pengurus Koperasi masuk ke dalam gedung berlantai 3 ini kami dari Koperasi dipertunjukkan dengan berbagai kelengkapan pabrik Kopi dan cafe yang telah didirikan pemiliknya beberapa tahun lalu.

Kamipun dipersilahkan duduk oleh si pemilik, kami sebut Pak/ Ibu J. (dalam rangka menjaga etika bisnis). Kami bermaksud menyebutkan premanisme yang sedang terjadi di dalam bisnis Kopi Papua pada saat ini.

Dalam artikel lain, kami telah tulis dalam kopiaslipapua.blogspot.com bahwa pada saat ini pemain Kopi Wamena ada yang berplat merah, ada berplat kuning, ada berplat hitam dan ada pula berplat spesial.

Setelah ditawari dua cangkir Kopi Single origin blend J, kami selanjutnya dibawa dua piring bakso berisi dua jenis kopi, yaitu yang pertama Kopi Wamena yang disupply oleh penjual berplat spesial, dan juga ditunjukkan Kopi Wamena yang telah disuplai oleh KSU Baliem Arabica.

Setelah di meja, J bertanya kepada kami berdua, "Kopi Wamena yang mana? Ini atau ini?" sambil menunjuk jari secara bergilir di antara kedua piring bakso dimaksud. Kami memilih Kopi yang kami kenal, yaitu Kopi yang telah kami supply dua hari sebelum pertemuan tanggal 1 Desember 2015 ini.

J kemudian mengatakan: Sabar, coba ulangi, lihat baik-baik, cium baik-baik, dan pilih yang mana Kopi Wamena? Kami tetap memilih kopi yang telah kami supply. Lalu J dan pasangannya sambil bertepuk tangan mengatakan, "Kalian salah, dua-duanya Kopi Wamena!"

Kami serta-merta tertawa dan menolak. Kami katakan kedua Kopi sangat berbeda, saat kita lihat, mereka dua sudah sangat berbeda, dari bentuk biji kopi, warna kopi, besarnya biji sudah sangat berbeda. Apalagi saat kami cium, kedua kopi ini sangat berbeda. Mereka berasal dari dua pulau yang berebeda.

Sambil tertawa J dan partnernya lalu mengatakan
"Sungguh ini Kopi Wamena! Cuman yang ini dijual oleh supplier yang tidak tahu main kopi. Pekerjaan pokok mereka lain, tetapi mereka turun main di kpi, jadi hasilnya ini, bukannya kopi tetapi sampah! Sungguh memalukan!"
Baik Jon Kwano dan Kelion Yikwa tidak berkomentar banyak. Koperasi punya prinsip, bahwa kami-lah pemain Kopi di Tanah Papua saat ini. Kami punya keerampilan dan pengalaman menghasilkan kopi standar export. Kopi kami dapat dieksport ke Amerika ataupun Eropa dan Asia, tanpa harus diapa-apakan, dapat diekspor langsung. Kopi yang kami jual ialah standar export, Grade A/ 1, sedangkan Kopi Grade B dan C kami produksi dalam bentuk Kopi Bubuk untuk konsumsi di Tanah Papua. Jadi kami tidak kaget, dan kami tahu persis bahwa kopi yang kami produksi memang sudah memenuhi standar ekxpor.

Siapa saja pengusaha Kopi di Indonesia perlu memahami bahwa kini Kopi Papua punya banyak sekali pemain, ada pemain profesional, ada pemain-main, ada preman kopi, ada mafia kopi, semuanya merebut nama baik Kopi Wamena.

Kami mengambil kesimpulan, bahwa memang pada saat ini banyak pihak, termasuk dengan plat Merah dan Plat Spesial bermain beli kopi dari petani Kopi di pegunungan Tengah Papua dengan harga yang mahal, melebihi harga yang dipatok Koperasi Baliem Arabica, tetapi kami tahu bahwa tujuan utama mereka ialah mencari keuntungan uang semata. Kami hadir dan ada, sampai kapanpun kami tidak akan lagi dari Tanah Papua, tidak akan meininggalkan petani Kopi Papua, kami juga dalah petani kopi Papua sehingga apa yang kami lakukan berorientasi jangka panjang, dengan mementingkan kepentingan petani Kopi, bukan sekedar manuver dan permainan

Kalaupun ada pejabat pemerintah atau petugas negara menjadi pengusaha Kopi Papua menggunakan kekuasaan dan fasilitas negara saat ini, kami sudah tahu pasti bahwa "pasar punya bahasa-nya sendiri, hukumnya sendiri. Ia tidak mengenal pemerintah, plat merah, plat putih, plat spesial. Pasar ialah pasar, bahasanya ialah produk berkualitas tinggi, bermutu ekspor, produk dengan harga yang pantas, dan produk yang dapat dipertanggungjawabkan secara profesional, bukan produk hasil premanisme dalam berbisnis, menggunakan faslitas publik demi kepentingan pribadi seperti yang terjadi saat ini di dalam bisnis Kopi Papua.

Kami percaya, bahwa Tuhan yang mahakuasa, Pencipta manusia dan tanahPapua bersama dengan kami, karena kami bediri dan berjuang untuk kebangkitan dan kemandirian ekononomi Orang Asli Papua (OAP).

Sunday, 18 October 2015

Kasus KetidakAsli-an Kopi Papua Arabica Oktober 2015: Dua Tiba-Tiba Jadi Lapar dan Gemetaran

Kasus ketidak-asli-an Kopi Papua sebagaimana kami jelaskan identitasnya secara garis besar dalam tulisan sebelumnya mau dilanjutkan dalam laporan ini dengan memberitahukan dampak yang dialami oleh kami yang mengkonsumsinya.

Kasus ini sama dengan yang telah kami laporkan sebelumnya, "Satu Contoh Kasus: Hasil Penipuan Kopi Papua Membuat Tiga Orang Pusing dan Berjatuhan

Kali ini kami yang minum juga pingsan, tetapi ada tambahan gejala yang luarbiasa kami alami, yaitu setelah meminumnya, duapuluh menit sampai satu jam kemudian, tubuh menjadi tidak berdaya menopang aktivitas di pagi hari itu. Tangan dan kaki gemeraran. Keringatan. Dan tidak sanggup melangkah, bahkan berdiri saja menjadi susah. Tubuh jadi sama dengan tidak makan sehari dua hari.

Keringat berjatuhan, gemetaran.

Reaksi kami ialah makan dan makan lagi. Walaupun makan, badan gemetaran tidak terhenti. Balasannya kami berbaring dan menenangkan diri.

Kemudian tambah makan lagi. Kemudian istirahat lagi.

Yang terjadi di sini, kemudian kami sadari bahwa inilah yang disebut pusing-pusing.

Ya, setelah mengkonsumsi Kopi yang diberi label "100% murni Kopi Papua" itu ternyata BUKAN ASLI. Ternyata banyak campurannya.

Kami tidak dapat membuktikan campuran apa yang menyebabkan reaksi tubuh kami hampir sama dengan kopi sebelumnya seperti kami sebutkan di atas. Perbedaannya ialah bahwa Kopi sebelumnya tidak tercium aroma Kopi Papua sama sekali. Kali ini memang ada aroma Kopi Papua, tetapi reaksi tubuh setelah kami meminumnya menjadikan kami harus bertanya kembali, "Apakah ini asli atau aslap?"

Kalau ada orang Papua atau orang yang tinggal di Tanah Papua yang pernah mengalami seperti yang kami alami, silahkan sampaikan itu kepada kami, maka kami akan publikasikan dalam blog ini. Kirimkan email ke: kopiaslipapua@gmail.com

Kami berdoa agar tidak ada korban-korban lain lagi yang berjatuhan karena tipudaya Iblis sebagai Bapa segala pendusta dan pasukannya di manapun mereka berada. Kami berdoa supaya pada akhirnya para penipu akan diberikan upah oleh Tuhan yang mahabenar. Amin!

Kasus KetidakAsli-an Kopi Papua Arabica Sekali Lagi Kami Alami di Jayapura Oktober 2015

Kami tidak akan menuliskan kata-kata yang tertulis dalam bungkusan kopi ini secara lengkap, mengingat tidak beretika membuka aib perusahaan lain. Tetapi kami jelaskan ciri-ciri umum. Kopi ini dijual dalam kemasan 200 gram, dan diproduksi di Kota Jayapura, Papua, Indonesia.

Kopi ini mengaku sebagai "murni dan 100% Kopi Papua". Ini yang sangat mengganggu kami.

Kami memproduksi Kopi Papua Arabica, terutama Wamena Single Origin di Gudang Produksi Kampung Harapan Sentani Timur, Kabnpaten Jayapura, Provinsi Papua dan kami bisa membedakan citarasa Kopi Papua dan malahan kami sudah bisa membedakan Origin Kopi masing-masing, menurut kabupaten dan distrik di pegunungan tengah Papua. Oleh karena begitu mendalam, sehingga kami tidak dapat ditipu oleh siapapun untuk menyatakan "ini Kopi Papua", apalagi "Ini 100% Kopi Papua" padahal rasanya sama sekali BUKAN Kopi Papua.

Di sisi depan merupakan pengakuan diri bahwa "dirinya ialah Kopi Asli Papua". Di bagian belakangnya tercantum kandungan atau apa saja yang ada di dalam kemasan dimaksud dan dicetak dengan jelas dan terang, "100% Kopi Papua", dan di bagian belakang ini juga tertulis perusahaan yang memproduksinya dan tempat produsi, serta di bawah dicetak nama domain, atau alamat situs web perusahaan yang memproduksi Kopi Aspal Papua dimaksud.

Di sisi kanan, kalau kita pegang kemasannya dari tampilan depan, tertulis saran penyajian, tertulis dalam bahasa Inggris lalu disusul di bawahnya terjemahan Bahasa Indonesia. Di sisi kirinya tergambar peta wilayah New Guinea bagian Barat, yaitu wilayah Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat, Sorong sampai Maroke.

Saran penyajian yang disampaikan cukup membantu, dan kamipun belajar dari apa yang disampaikan dalam kemasan ini. Di sisi lainnya yang berisi gambar peta dan penjelasan tentang wilayah tanam atau sering disebut indikasi geografis dari Kopi Papua yang sedang dijual di dalamnya. Penjelasan peta dan keterangan tidak begitu membantu. Menyebutnya Kopi Papua, tetapi yang disajikan hanya Kopi dari New Guinea bagian Barat, sedangkan Papua ialah dari Sorong sampai Samarai. Ini bukan kekeliruan kemasan ini saja, tetapi kekeliruan penikmat Kopi di seluruh Indonesia.

Kalau kita sebut "Kopi Papua", maka sebaiknya kita harus tahu bahwa yang kita maksudkan ialah Kopi dari Sorong sampai Samarai. Dan setelah itu kita juga perlu klasifikasikan, bahwa Kopi Papua bukanlah nama Kopi Single Origin, tetapi Kopi Papua memiliki banyak sekali Single Origin, yang lain sudah diidentifikasi dan di-branded, dan yang lainnya sedang dalam proses "branding".

Kopi Papua yang sudah di-"branded" antara lain:

  1. Baliem Blue Coffee seabgai Kop Papua Wamena Single Origin;
  2. Kopi Moanemani sebagai Kopi Papua Dogiyai Single Origin;
  3. Kopi Hagen sebagai Kopi Papua Mount Hagen Single Origin;
  4. Kopi Senang sebagai Kopi Papua Sorong Single Origin; dan
  5. Kopi Goroka sebagai Kopi Papua Goroka Single Origin.
Jadi, kita kembali ke kemasan tadi, mengakunya Papua Coffee, tetapi tidak menjelaskan dari mana sebenarnya kopi ini berasal. (Dalam tulisan berikut akan kita tulis bagaimana citarasa Papua Coffee yang Aspal ini)